Video Makan Tokek Goreng Sedang Trending di TikTok

Video Makan Tokek Goreng Sedang Trending di TikTok

Jagad dunia maya sedang dihebohkan oleh sebuah video seorang pengguna TikTok @krisnaweni yang menunjukkan seekor tokek digoreng untuk santapan makan malam. Hal tak biasa itu sontak saja mengundang berbagai reaksi dari netizen dengan berbagai komentarnya.

Seorang pengguna @_minimonimo_ pun berkomentar,

“gue rela makan nasi sama garam”.

Pengguna lainnya @its.tworld memberikan reaksi yang senada,

“Kalo disuruh milih nahan laper sampe pagi atau suruh makan tokek, gua lebih milih nahan laper sampe pagi,”.

Hingga tulisan ini dimuat, video berdurasi delapan detik itu telah ditonton sebanyak 6,6 juta kali, mendapatkan 244 ribu Like, dan 25 ribu komentar. Lalu, bagaimanakah sebenarnya fakta tentang tokek yang dikonsumsi oleh manusia? Apakah hewan ini bisa memberikan manfaat atau malah sebaliknya berbahaya bagi tubuh?

Apakah Tokek Beracun Jika Dikonsumsi?

Melansir dari Reptile Follower, tokek dinding ternyata tidak beracun, sehingga manusia dapat mengkonsumsinya tanpa mengkhawatirkan racun. Namun kulit dan mulut tokek diketahui membawa bakteri berbahaya, seperti salmonella yang dapat menyebabkan keracunan jika dimakan.

Jari-jari kaki untuk merangkak juga merupakan tempat persembunyian favorit bagi bakteri dan patogen. Oleh karena itu agar aman, beberapa organ tokek harus dipisahkan atau dilakukan pembersihan secara menyeluruh terlebih dahulu, seperti kulit, mulut, dan jari-jari kaki.

Bagian Tokek yang Tak Beracun

Seperti yang telah disebutkan, bahwa ada beberapa bagian tubuh tokek yang dapat dikonsumsi secara aman. Reptiles Vila menguraikan bahwa pembedahan harus dilakukan untuk mengambil organ bagian dalam.

Daging tubuh, yang disebut dengan somatik, adalah bagian yang paling lembut dan empuk, serta tidak beracun. Meskipun begitu, calon pemakan harus extra hati-hati saat mengiris.

Organ dalam seperti paru-paru, jantung, ginjal serta usus, juga dinilai aman untuk dikonsumsi. Jantung dan ginjal berukuran sangat mini, sehingga mungkin tidak cukup besar untuk dimakan.

Ususnya juga perlu dibersihkan secara menyeluruh sebelum direbus untuk menghilangkan bakteri. Ketika mengolah jantung, agar lebih cermat untuk tidak merobek kantung empedu, karena di dalamnya terdapat cairan empedu yang dapat meracuni daging.

@krisnaweni

mlm mlm kok laper 🤣🤭🙈#fygchallenge #fouryou #fouryou #fyp #fpyシ

♬ original sound – Weni Lorenz – Weni Lorenz

Beberapa konsumen memanfaatkan tulang untuk direbus menjadi sup tulang sumsum yang dibumbui dengan beberapa jenis rempah. Kulit tulang tungkai harus diangkat sekaligus membersihkan kulit selaput jari kaku secara menyeluruh, dimana terdapat banyak bakteri yang dapat menyebabkan keracunan.

Selain itu, disarankan untuk membuang seluruh bagian mulut atau memanaskannya dengan suhu yang tinggi diatas 110 derajat celcius.

Jika sedikit ragu, maka konsumen bisa memanggil dokter hewan untuk mengecek status kesehatan tokek sebelum dikonsumsi.

Tokek dalam Pengobatan Tradisional

Sebuah publikasi oleh Villanova University pada tahun 2009 menemukan, sedikitnya ada 14 spesies tokek yang dimanfaatkan sebagai bahan obatan-obatan tradisional di seluruh negeri Tiongkok.

Pengobatan tradisional di negeri tirai bambu umumnya menggunakan dua jenis tokek, yaitu tokek besar dan tokek kecil.

Tokek dapat mengobati berbagai macam jenis penyakit, seperti asma, tuberkulosis, diabetes, serta kanker. Penelitian terkini di Tiongkok tertumpu pada identifikasi dan bahan aktif dalam tokek serta verifikasi kemanjurannya. Penelitian ini berfungsi untuk mengurangi penjualan obat tokek palsu dan kesalahan identifikasi.

Seorang Pria Diduga Tewas Setelah Makan Tokek

Pada tahun 2019, Fox News melaporkan, seorang pria di Australia meninggal setelah memakan tokek sebagai bentuk tantangan oleh teman-temannya pada pesta menjelang Natal. Dua hari setelahnya, pria berusia yang 34 tahun tersebut dilarikan ke rumah sakit dengan gejala yang sangat kritis, seperti muntah, perut membengkak, dan ada cairan di paru-paru.

Bahkan dokter yang menanganinya berkata,

“Itu seperti organ dalam yang telah membusuk,”.

Pria malang tersebut akhirnya menghembuskan nafas terakhir dua minggu setelah masuk rumah sakit. Identifikasi terakhir menunjukkan terdapat bakteri beracun salmonella pada mulut tokek, yang ditemukan di dalam tubuh ayah tiga anak tersebut.

Menanggapi kejadian nahas, The Centers of Disease Control and Prevention (CDC) menganjurkan untuk tidak memelihara reptil, terutama di sekitar anak-anak yang berumur di bawah lima tahun dan orang lanjut usia, atau mereka yang memiliki kekebalan imun yang lemah.

Selain itu, lembaga tersebut menyarankan agar menjauhkan reptil dari jangkauan peralatan dapur atau tempat manapun dimana makanan disiapkan, disajikan, dan dikonsumsi. Pada akhirnya CDC mengingatkan,

“Jangan berciuman atau berpelukan dengan reptil dan amfibi karena hal ini dapat meningkatkan risiko Anda jatuh sakit,”

Bagikan ke media sosial: